RESPIRASI
PADA TUMBUHAN
RIMA MELATI
(1310421092)
KELOMPOK III A (KELAS C)
Jurusan
Biologi, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas,
Padang
ABSTRAK
Praktikum respirasi
tumbuhan dilakukan pada tanggal 13 Maret 2015. di
Laboratorium Teaching
IV Jurusan Biologi Fakultas Matimatika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Andalas. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu
terhadap kecepatan respirasi aerobik kecambah dan mengetahui kecepatan
respirasi biji yang sedang berkecambah dengan metoda titrasi. Pada praktikum
ini dilakukan dua percobaan yaitu pengaruh suhu terhadap kecepatan respirasi
aerobik dan penentuan kecepatan respirasi biji yang sedang berkecambah. Cara
kerja pada percobaan pertama adalah dengan mengikatkan kecambah yang telah
diletakkan didalam kain kasa dan menggantungnya didalam botol kemudian
ditempatkan pada suhu tertentu. Cara kerja percobaan kedua tidak jauh berbeda
dengan yang pertama hanya jenis kecambah dan larutan yang digunakan yang berbeda.
Hasil yang diperoleh dari praktikum yaitu . Laju respirasi yang paling cepat terjadi kecambah pada
perlakuan suhu 45oC 0 mg
CO2/g/h dan laju respirasi paling lambat terjadi pada
kecambah yang diberikan perlakuan pada suhu 5°C 0,088 mg CO2/g/h).
Kata
kunci : Biji, respirasi, suhu,
tumbuhan.
PENDAHULUAN
Respirasi
merupakan suatu proses pelepasan energi kimia molekul organik di dalam sel.
Energi molekul organik adalah energi matahari yang disimpan di dalamnya,
terjadi pada proses fotosintesis. Pada proses fotosintesis terjadi adanya
pembentukan gula dari molekul-molekul karbohidrat dan air dengan bantuan cahaya
matahari (Dwijoseputro, 1994).
Selama terjadinya fotosintesis
dihasilkan oksigen, maka pada saat terjadinya respirasi, oksigen ini dibutuhkan
untuk merombak senyawa gula untuk menghasilkan energi ATP. Respirasi
menggunakan makanan yang mengakibatkan pembentukan ATP. Kemudian dirubah
menjadi ADP dan menghasilkan energi. Jadi respirasi didefenisikan sebagai
proses penguraian bahan organik menjadi energi (Darmawan dan Baharsjah,1980).
Energi
yang ditangkap dari proses oksidasi sempurna beberapa senyawa dapat digunakan
untuk mensintesis molekul lain yang dibutuhkan untuk pertumb uhan. Bila
tumbuhan sedang tumbuh, laju respirasi meningkat sebagai akibat dari permintaan
pertumbuhan, tapi beberapa senyawa yang hilang dialihkan ke dalam reaksi
sintesis dan tidak pernah muncul sebagai CO2.
Respirasi terjadi
pada seluruh sel yang hidup, khususnya di Mitokondria. Proses ini bertujuan
untuk membangkitkan energi kimia (ATP). ATP dibentuk dari penggabungan ADP + Pi
(fosfat anorganik) dengan bantuan enzim H+ -ATP-ase, dalam rantai
transfer elektron yang terdapat pada membran mitokondria. Peristiwa aliran
elektron dan atau proton (H+) dalam rantai tranfer elektron pada dasarnya
adalah peristiwa Reduksi –
Oksidasi (Redoks). Oleh sebab itu, pembentukan
ATP yang digerakkan oleh energi hasil oksidasi dan perbedaan proton antara
ruang antar membran dengan membran sebelah dalam mitokondria disebut fosfotilasi oksidatif (Salisbury and Ross,
1995).
Respirasi pada tumbuhan pada dasarnya
sama dengan hewan, namun juga ada kekhasannya. Proses respirasi pada dasarnya
adalah proses pembongkaran zat makanan sumber energi (umumnya glukosa) untuk
memperoleh energi kimia berupa ATP. Namun demikian, zat sumber energi tidak
selalu siap dalam bentuk glukosa, melainkan masih dalam bentuk cadangan
makanan, yaitu berupa sukrosa atau
amilum. Karena itu zat tersebut
harus terlebih dahulu di bongkar secara hidrolitik. Demikian pula bila zat cangan
makanan yang hendak dibongkar adalah lipida (lemak) atau protein (Kimball,
1983).
Berdasarkan kebutuhannya terhadap
oksigen, respirasi dibagi menjadi 2 macam yaitu respirasi anaerob : tidak
memerlukan oksigen tetapi penguraian bahan organiknya tidak lengkap. Respirasi
macam ini jarang terjadi, hanya dalam keadaan khusus. Substrat respirasi adalah
glukosa. Respirasi aerob
memerlukan oksigen, penguraiannya lengkap, sampai dihasilkan CO2 dan
H2O. Respirasi
merupakan rangkaian dari 50 atau lebih reaksi komponen, masing-masing
dikatalisis oleh enzim yang berbeda. Respirasi merupakan oksidasi (dengan
produk yang sama seperti pembakaran) yang berlangsung di medium air. Dengan PH
mendekati netral, pada suhu sedang dan tanpa asap. Pemecahan bertahap dan
berjenjang molekul besar merupakan cara untuk mengubah energi menjadi ATP.
Lebih lanjut, sejalan berlangsungnya dengan pemecahan, kerangka karbon antara
disediakan untuk menghasilkan berbagai produk esensial lainnya dari tumbuhan.
Produk ini meliputi asam amino untuk protein, nukleotida untuk asam nukleat,
dan prazat karbon untuk pigmen porfirin, dan untuk lemak, sterol, karetenoid,
pigmen flavonoid seperti antosianin dan senyawa aromatic lainnya, seperti
lignin (Dwijoseputro, 1994).
Jika
karbohidrat, misalnya sukrosa, fruktan, atau pati merupakan substrat respirasi
dan jika mereka secara sempurna dioksidasi, maka volume O2 yang
diambil persis berimbang dengan CO2 yang dilepaskan. Nisbah CO2
terhadap O2 ini disebut kuosien respirasi atau RQ, sering hampir
mendekati satu. Contoh, RQ yang diperoleh dari daun berbagai jenis tumbuhan
rata-rata 1,05. biji yang sedang berkecambah dari tumbuhan serealia dan
kacang-kacangan seperti kapri dan kacang, yang mengandung pati sebagai cadangan
makanan utama, juga menunjukkan RQ sekitar 1,0. tapi, biji berbagai tumbuhan
lain banyak mengandung lemak atau minyak yang kaya hidrogen dan rendah
kandungan oksigennya. Bila minyak dan lemak dioksidasi selama perkecambahan, RQ
sering hanya 0,7, sebab cukup banyak oksigen diperlukan untuk mengubah hidrogen
menjadi H2O dan mengubah karbon menjadi CO2 (Salisbury
dan Ross, 1995).
Faktor-faktor
yang mempengaruhi respirasi adalah ketersediaan substrat ; laju respirasi daun
sering lebih cepat segera setelah matahari tenggelam saat kandungan gula tinggi.
Daun bagian bawah ternaungi respirasi lebih lambat dari daun sebelah atas yang
terkena cahaya matahari berhubung kandungan pati dan gula, ketersediaan O2
; pada akar, batang, dan daun sedikit mempengaruhi respirasi karena
sitokrom oksidase mempunyai afinitas yang tinggi terhadap oksigen biarpun
konsentrasi hanya 0,05 %, suhu ; peningkatan suhu sampai 40 ºC atau lebih
menurunkan respirasi, karena enzim mengalami denaturasi untuk mencegah
metabolik yang semestinya terjadi, jenis dan umur tanaman ; umunya bakteri,
fungi, dan ganggang berespirasi lebih cepat dibandingkan dengan tumbuhan
berbiji. Berdasarkan bobot kering hanya mengandung sedikit makanan
dan tidak mempunyai sel nonmetabolik (Burhan, 1997).
Faktor luar diantaranya adalah
konsentrasi oksigen, suhu, dan cahaya. Oksigen sangat penting dalam respirasi,
karena oksigen adalah penerima elektron terakhir yang menentukan keberhasilan
terbentuknya ATP. Karena itu jika konsentrasi O2 rendah maka laju
respirasi rendah. Suhu sangat mempengaruhi respirasi karena respirasi adalah
reaksi enzim. Pada reaksi metabolisme, ketika suhu naik 100C maka
laju respirasi naik 2-3 lipat. Tapi pada organisme berlaku sampai pada suhu
optimum. Hal ini disebabkan makin naik suhu maka energi kinetis larutan juga
akan meningkat yang mempercepat reaksi. Melampaui suhu optimum laju reaksi
menurun sampai suhu maksimum. Hal ini disebabkan tinggi suhu akan mempengaruhi
kerja enzim (Lakitan, 2004).
Suhu
tinggi (diatas optimum) akan merusak tanaman dengan mengacau laju respirasi dan
absorbsi air. Bila suhu udara meningkat, laju respirasi meningkat, karena
penurunan tekanan defisit uap dari udara yang hangat dan suhu yang tinggi pada
daun yang mengakibatkan peningkatan tekanan uap air pada daun. Kelayuan akan
terjadi jika absorbsi terbatas karena kurangnya air atau kerusakan system
vaskuler atau system perakaran. Tingkat kerusakan akibat suhu tinggi, lebih
besar pada jaringan yang lebih muda, karena terjadi denaturasi protoplasma oleh
dehidrasi (Jumin, 2002).
Antara
suhu 5 oC samapi 25 oC laju respirasi akan meningkat
lebih dari dua kali lipat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 10 oC.
Jika ditingkatkan sampai sekitar 35 oC, laju respirasi tetap
meningkat tetapi dengan nilai Q10 yang lebih rendah. Penurunan nilai
Q10 ini diduga disebabkan karena peran oksigen melalui kutikula atau
epidermis tidak mencukupi kebutuhan. Pada suhu yang lebih tinggi lagi (sekitar
40 oC) laju respirasi akan mulai menurun, hal ini disebabkan karena
sebagian enzim-enzim yang berperan akan mulai mengalami denaturasi (Kumar,
2003).
Enzim adalah protein, sifat protein
jika suhu tinggi maka protein akan mengalami koagulasi, sehingga sisi aktif
enzim akan terganggu. Umumnya semakin tinggi temperature penurunan kecepatan
respirasi semakin cepat. Suhu juga mempengaruhi kelarutan oksigen. Yang ketiga
yaitu cahaya, cahaya secara tidak langsung mempengaruhi respirasi sehubungan
ketersediaan substrat. Jika cahaya cukup maka proses fotosintesis tinggi
mengakibatkan tersedianya senyawa karbohidrat
sebagai substrat respirasi. Hal ini bisa dibuktikan dimana laju
respirasi 1-2 jam setelah fotosintesis aktif, laju rspirasi lebih tinggi
dibandingkan dengan respirasi gelap. Demikian juga daun cahaya, laju respirasi
lebih tinggi (70-90 umol CO2/ gr biomassa perjam) dibandingkan dengan daun yang
biasa terlindung (20-45 umol CO2 / g biomassa perjam) (Lakitan, 2004).
Adapun
tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap
kecepatan respirasi aerobik kecambah dan mengetahui kecepatan respirasi biji
yang sedang berkecambah dengan metoda titrasi. Pada praktikum ini dilakukan dua
percobaan yaitu pengaruh suhu terhadap kecepatan respirasi aerobik dan
penentuan kecepatan respirasi biji yang sedang berkecambah.
PELAKSANAAN
PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
Praktikum tentang respirasi pada
tumbuhan dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 13 Apri 2015, yang bertempat di
Laboratorium Teaching IV,
Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Andalas, Padang.
Alat dan Bahan
Alat dan
bahan yang digunakan pada praktikum percobaan
pengaruh suhu terhadap kecepatan respirasi aerobik adalah botol, aluminium
foil, kain kassa, benang, label, karet gelang, CO2 meter, gelas
piala, pipet tetes, gelas ukur, pendingin, dan inkubator. Sedangkan bahan
yaitu kecambah mentimun (Cucumis sativus) umur 3 hari dan untuk percobaan
penentuan kecepatan respirasi biji yang berkecambah menggunakan botol,
erlenmayer, kain kasa, benang, gunting, buret, biji kacang hijau (Phaseolus
radiatus) 4 hari.
NaOH 0,2 N, dan HCl 0,1 N. Dalam praktikum
ini ada dua percobaan yang dilakukan antara lain:
Cara
Kerja
a. Pengaruh Suhu Terhadap
Kecepatan Respirasi Aerobik
Kecambah
Cucumis sativus ditimbang sebanyak 10
g, dibungkus dengan kain kasa dan ikat ujungnya dengan benang yang disisakan
memenjang, dimasukkan ke dalam botol dengan posisi tergantung, dengan cara
mengikat ujung benang pada bibir botol, ditutup dengan aluminium foil dan ikan
dengan karet gelang, buat kontrol dengan botol tanpa kecambah, diletakkan pada
suhu kamar, diberi label pada masing-masing botol dan diletakkan pada
refrigerator (50C), ruangan (270C), dan inkubator (450C),
setelah satu jam ukur kadar CO2 yang dihasilkan dengan menggunakan
CO2 meter, hitung laju respirasi dengan menggunakan rumus :
Rsp = V (S-C) 44 x 1 x 1
22,4 t w
Ket :
Rsp : laju respirasi (mg CO2/g/h)
V : volume botol
S : skala konsentrasi sampel
C : skala konsentrasi control
44 : BM CO2
22,4 : ketetapan
t : waktu
w : berat sampel
b. Penentuan Kecepatan Respirasi
Biji Yang Sedang Berkecambah
Dimasukkan 20 mL NaOH 0,2 N dalam
masing-masing 3 buah botol dan langsung ditutup erat dengan menggunakan penutup
alumunium foil dan karet, timbang 1 g kecambah Phaseolus radiatus sesuai dengan perlakuan masing-masing kelompok
didalam kain kasa yang diikat kuat dengan benang. Gantungkan didalam botol
dengan benang. Salah satu botol NaOH tanpa biji digunakan sebagai kontrol, beri
label botol-botol tersebut dan tempatkan pada suhu 270C selama 2
jam, tentukan jumlah CO2 yang dikeluarkan selama respirasi dengan
menggunkan metode titrasi.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
a.
Pengaruh
Suhu Terhadap Kecepatan
Respirasi Aerobik
Tabel 1.
Pengaruh Suhu Terhadap Kecepatan Repirasi pada kecambah Cucumis
sativus
No
|
Perlakuan
|
Konsentrasi CO2
|
Laju Respirasi (mg CO2/g/h)
|
1
|
Kontrol
|
13,5
|
-
|
2
|
5 oC
|
15
|
0,088
|
3
|
25 oC
|
16
|
0,147
|
4
|
45 oC
|
13,5
|
0
|
Dari hasil percobaan dapat dilihat pda tabel 1
bahwa kadar CO2 berbeda-beda pada setiap perlakuan suhu, demikian
juga dengan laju respirasinya. Pada suhu 5°C
diperoleh nilai kadar Co2 sebanyak 13,5 Ppm, kemudian pada suhu 25
°C diperoleh nilai
kadar Co2 naik dari kadar Co2 sebelumnya yaitu sebanyak
16 Ppm, kemudian pada suhu maksimum yaitu pada suhu 45 °C diperoleh nilai kadar
Co2 menurun hingga nilai kadar Co2 sebanyak 13,5 Ppm. Hal ini membuktikan bahwa suhu berpengaruh terhadap laju respirasi
kecambah. Laju respirasi yang paling cepat terjadi kecambah pada perlakuan suhu
25oC dan laju respirasi paling lambat terjadi pada kecambah yang
diberikan perlakuan pada suhu 5°C.
Hal ini dapat disebabkan karena suhu
yang terlalu tinggi dapat menyebabkan enzim yang bekerja pada saat respirasi
terdenaturasi sehingga menyebabkan enzim rusak. Hal ini sesuai dengan Burhan
(1997), yang menyatakan bahwa dengan kenaikan suhu penyimpanan sebesar 100C
akan mengakibatkan naiknya laju respirasi sebesar 2 sampai 2.5 kali, tetapi di
atas suhu 350C laju respirasi akan menurun karena aktivitas enzim
terganggu yang menyebabkan terhambatnya difusi oksigen.
Pada percobaan diatas dapat dilihat
pada bahwa pada setiap suhu laju respirasi pada tumbuhan berbeda-beda, dari
suhu terendah didapat laju respirasi yang rendah dan pada suhu yang tinggi laju
respirasi juga menurun. Laju respirasi yang paling cepat terjadi
kecambah pada perlakuan suhu 25oC dengan laju respirasi sebesar 0,147 mg CO2/g/h dan laju respirasi paling lambat terjadi pada kecambah yang diberikan
perlakuan pada suhu 5°C dengan laju respirasi sebesar 0,088 CO2/g/h.
Hal ini sesuia dengan pernyataan Dwijoseputro (1994),
menyatakan bahwa laju respirasi dipengaruhi oleh suhu. Respirasi rendah akan
terhenti pada suhu 0oC dan maksimal pada suhu 30 oC
sampai 45oC. Respon respirasi terhadap suhu tidak sama pada jenis
tanaman dan pada setiap tahap perkembangan tanaman. Pada tanaman tropis respirasi
maksimal terjadi pada suhu 45oC, dan tanaman daerah sedang respirasi
maksimal 30 oC.
Secara
langsung laju respirasi jaringan dipengaruhi dua faktor lingkungan yaitu
konsentrasi oksigen dan suhu. Menurut Kimball (1983), dalam proses ini
terbentuk energi bebas (ATP dan NADH) yang diperlukan dalam sintesis sel dan senyawa-senyawa
intermediet yang merupakan substrat bagi sintesis senyawa-senyawa lain (asam
amino, lemak, protein dan lain-lain). Oleh karena itu laju respirasi dapat
memberikan gambaran tentang tingkat kegiatan metabolisme jaringan itu. Laju respirasi
ditetapkan dengan mengukur banyaknya CO2
yang terbentuk dan gas O2
yang diserap persatuan berat segar (kering) jaringan persatuan waktu.
b.
Penentuan Kecepatan Respirasi Biji Yang Sedang Berkecambah
Tabel 2
kecepatan respirasi biji Phaseolus
radiatus dengan metoda titrasi
Umur
Kecambah
|
Suhu
(oC)
|
HCl yang terpakai
(ml)
|
Kadar
CO2
|
1
|
5
|
2,1
|
1,7
|
|
25
|
1,5
|
1,1
|
|
40
|
1,9
|
1,5
|
2
|
5
|
2
|
1,6
|
|
25
|
1,7
|
1,3
|
|
40
|
2
|
1,6
|
3*
|
5
|
1,8
|
1,4
|
|
25
|
1,9
|
1,5
|
|
40
|
2,1
|
1,7
|
4*
|
5
|
2
|
1,6
|
|
25
|
2,2
|
1,8
|
|
40
|
1,9
|
1,5
|
5*
|
5
|
1,8
|
1,4
|
|
25
|
1,9
|
1,5
|
|
40
|
2
|
1,6
|
Keterangan * : percobaan galat
Dari tabel diatas didapat kadar CO2
yang bervariasi pada setiap umur kecambah Percobaan diatas dilakukan
dengan mentitrasi larutan HCl yang digunakann untuk mempengaruhi kecepatan respirasi pada
kecambah perlakuan kontrol dengan HCl 0,4 ml dan indikator Pp sebanyak 3 tetes
untuk semua percobaan . Kadar Co2 tertinggi terdapat pada kecambah yang berumur 1 hari
sebanyak 1,7 yaitu pada suhu 5oC dan kadar CO2 terendah terdapat pada kecambah yang berumur 1 hari sebanyak
1,1, yaitu pada suhu 25oC. Pada kecambah Phaseolus radiatus kecambah
yang berumur 1 hari mempunyai kecepatan respirasi yang berbeda dengan
kecambah yang berumur 2. Kadar CO2 pada
hari pertama lebih tinggi yaitu pada suhu 5oC
daripada kadar CO2 pada
hari ke 2 pada suhu 5oC. Umur kecambah yang sama
dengan suhu yang berbeda memberikan pengaruh yang besar terhadap kadar CO2. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Dwidjoseputro (1985), bahwa suhu mempunyai pengaruh besar
terhadap kegiatan respirasi. Pada suhu 0oC respirasi sangat sedikit pada suhu
300C-400C kegiatan respirasi sangat cepat, berhentinya
kegiatan respirasi tersebut dapat disebabkan karena non aktifnya enzim. Enzim
akan rusak pada suhu yang sangat tinggi tertimbunnya CO2, kurangnya
oksigen juga dapat menghambat terjadinya respirasi yang berlangsung lambat.
Data
yang diperoleh pada percobaan 3 menunjukkan bahwa kadar CO2, yang
paling tinggi diantara kadar CO2 pada umur kecambah 1,2,4 dan 5
hari. Hal ini dapat disebabkan karena ukuran kecambah yang berbeda dan kecambah
yang digunakan juga berbeda. Pada percobaan 1, 2, 4, dan 5 kecambah yang
digunakan yaitu kecambah Phaseolus radiatus
sedangkan pada hari ke 3 kecambah yang digunakan yaitu kecambah Cucumus
sativus sehingga menyebabkan kadar CO2 yang dihasilkan pada kecambah
juga berbeda. Hal ini sesuai dengan Gardner (1991) yang menyatakan bahwa umur
dan jenis tumbuhan yang digunakan mempengaruhi laju respirasi karena perbedaan
morfologi antara berbagai jenis tumbuhan, maka akan terjadi pula perbedaan laju
respirasi antara tumbuhan tersebut.
Dapat dilihat dari data pengamatan
yang telah diperoleh bahwa umur dan jenis kecambah yang digunakan sangat
mempengaruhi kadar C02 yang dihasilkan. Tetapi data pada tabel 2, percobaan yang
benar adalah percobaan pada kecambah yang berumur 1 dan 2 hari, sedangkan pada
kecambah yang berumur 3,4 dan 5 hari percobaanya salah. Kesalahan yang
dilakukan ketika praktikum oleh praktikan menjadi salah satu faktor yang
mempengaruhi. Misalnya kesalahan
pada saat memberikan perlakuan, dapat
dilihat pada tabel 2, sebenarnya perlakuan pada percobaan ke 3 yang diberikan
salah karena kecambah yang digunakan adalah kecambah Cucumus sativus yang berumur 3 hari, hal ini dapat terjadi karena
kurangnya komunikasi antara asisten dengan praktikan. Selain itu kesalahan
dalam melakukan percobaan terjadi karena informasi yang diperoleh oleh
praktikan hanya dari teman praktikan dan tidak memastikannya kembali kepada
asisten sehingga kami salah dalam melakukan percobaan. Ketidaktelitian dalam melakukan
titrasi juga merupakan kesalahan sehingga data yang diperoleh tidak sesuai
dengan yang diharapkan.
Pada
percobaan ini, bahan yang digunakan adalah kecambah yang memiliki perbedaan
umur yang signifikan, sehingga dapat mempengaruhi kecepatan respirasi dan kadar
CO2 yang dihasilkan. Menurut Loveless (1991), semakin muda umur
kecambah maka semakin cepat laju respirasi yang terjadi pada tumbuhan tersebut.
Kecambah
melakukan pernapasan untuk mendapatkan energi yang dilakukan dengan melibatkan
gas oksigen (O2) sebagai bahan yang diserap atau
diperlukan dan menghasilkan gas karbondioksida (CO2), air (H2O)
dan sejumlah energi yang dihasilkan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari praktikum
yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa :
1.
Laju respirasi pada
tumbuhan dipengaruhi oleh suhu. Laju respirasi yang
paling cepat terjadi pada kecambah dengan perlakuan suhu 45oC 0 mg CO2/g/h dan
laju respirasi paling lambat terjadi pada kecambah yang diberikan perlakuan
pada suhu 5°C 0,088 mg
CO2/g/h).
2.
Kadar
Co2 tertinggi terdapat pada kecambah yang berumur 1 hari
sebanyak 1,7 yaitu pada suhu 5oC dan kadar CO2 terendah terdapat pada kecambah yang berumur 1 hari sebanyak 1,1, yaitu pada suhu 25oC,
3.
Respirasi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
ketersediaan substrat, ketersediaan O2, jenis dan umur tanaman dan
suhu.
4.
Semakin tinggi
suhu yang diberikan, laju respirasi semakin tinggi sampai pada suhu maksimum
dimana enzim dapat bekerja secara optimal yaitu 25 oC - 38 oC dan laju
respirasi maksimal pada suhu 30 oC sampai 40 oC.
DAFTAR
PUSTAKA
Burhan, W. 1997. Buku
Ajar Fisiologi Tumbuhan. DEPDIKBUD UNAND. Padang
Darmawan dan Baharsjah. 1980. Pengantar
Fisiologi Tumbuhan . PT Gramedia. Jakarta.
Dwdijoseputro, D. 1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanaman. Gramedia. Jakarta.
Gardner,
F. P. R. Brent pearce dan Goger L. Mitchell, 1991, Fisiologi Tanamanan Budidaya, Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Loveless,
A.R. 1991. Prinsip-Prinsip Biologi
Tumbuhan UntukDaerah Tropik 1. Gramedia : Jakarta
|
Jumin, H. B. 2002. Agro
Ekologi: Suatu Pendekatan Fisiologis. Rajawali. Jakarta
Kimball, John. W. 1983. Biologi Jilid I Edisi kelima. Erlangga. Jakarta
Kumar, C. G. 2003. Arrowroot
(Maranta arundinacea L.) Starch as a New Low Cost Substrat for Alkaline
Protease Production. World Journal of Microbiology and Biotechnology.
19(7):757-762.
Lakitan, B. 2001. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. PT. Grafindo
Persada. Jakarta
Lakitan,B.
2004. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan.
Raja Grafindo Persada : Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar