I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ekologi adalah ilmu yang membicarakan tentang hubungan
timbal balik antara organisme dan lingkungannya serta antara organisme itu
sendiri. Dalam proses hubungan timbal balik atau interaksi ini, organisme
saling mempengaruhi satu dengan yang lain dan dengan lingkungan sekitar, begitu
pula lingkungan mempengaruhi kegiatan hidup organisme. Semua individu yang
hidup dalam suatu daerah membentuk suatu populasi. Dan beberapa populasi
spesies yang cenderung untuk hidup bersama di suatu daerah geografis tertentu
membentuk suatu komunitas ekologi dimana suatu komunitas tersebut beserta lingkungan
fisik dan kimia disekelilingnya secara bersama-sama membentuk suatu ekositem
yang dipelajari dalam ekologi (Rustamsyah, et all. 1990).
Populasi ditafsirkan sebagai
kumpulan kelompok makhluk yang sama jenis (atau kelompok lain yang individunya
mampu bertukar informasi genetik) yang mendiami suatu ruangan khusus, yang
memiliki berbagai karakteristik yang walaupun paling baik digambarkan secara
statistik, unik sebagai milik kelompok dan bukan karakteristik individu dalam
kelompok itu (Soetjipta.1992).
Kepadatan populasi satu jenis atau
kelompok hewan dapat dinyatakan dalam dalam bentuk jumlah atau biomassa per
unit, atau persatuan luas atau persatuan volume atau persatuan penangkapan.
Kepadatan populasi sangat penting diukur untuk menghitung produktifitas, tetapi
untuk membandingkan suatu komunitas dengan komunitas lainnya parameter ini
tidak begitu tepat. Untuk itu biasa digunakan kepadatan relatif. Kepadatan
relatif dapat dihitung dengan membandingkan kepadatan suatu jenis dengan
kepadatan semua jenis yang terdapat dalam unit tersebut. Kepadatan relatif
biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase (Suin.N.M.1989).
Ukuran
populasi umumnya bervariasi dari waktu, biasanya mengikuti dua pola. Beberapa
populasi mempertahankan ukuran populasi mempertahankan ukuran populasi, yang
relatif konstan sedangkan pupolasi lain berfluktasi cukup besar. Perbedaan
lingkungan yang pokok adalah suatu eksperimen yang dirangsang untuk
meningkatkan populasi grouse itu. Penyelidikan tentang dinamika populasi, pada
hakikatnya dengan keseimbangan antara kelahiran dan kematian dalam populasi
dalam upaya untuk memahami pada tersebut di alam.(Naughton.Mc.1973)
Tingkat
pertumbuhan populasi yaitu sebagai hasil akhir dari kelahiran dan kematian,
juga mempengaruhi struktur umur dan populasi. Suatu
populasi dapat juga ditafsirkan sabagai suatu kelompok yang sama. Suatu
populasi dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kolompok makhuk yang sama
spesiesnya dan mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus. Populasi
dapat dibagi menjadi deme, atau populasi setempat, kelompok-kelompok yang dapat
saling membuahi, satuan kolektif terkecil populasi hewan atau tumbuhan.
Populasi memiliki beberapa karakteristik berupa pengukuran statistik yang tidak
dapat diterapkan pada individu anggota populasi. Karakteristik dasar populasi
adalah besar populasi atau kerapatan (Hadisubroto.T.1989).
Menurut
Soetjipta (1992), kerapatan populasi ialah ukuran besar populasi yang
berhubungan dengan satuan ruang, yang umumnya diteliti dan dinyatakan sabagai
cacah individu atau biomassa per satuan luas per satuan isi. Kadang kala
penting untuk membedakan kerapatan kasar dari kerapatan ekologik (kerapatan
spesifik). Kerapatan kasar adalah cacah atau biomassa persatuan ruang total,
sedangkan kerapatan ekologik adalah cacah individu biomassa persatuan ruang
habitat. Dalam kejadian yang tidak praktis untuk menerapkan kerapatan mutklak
suatu populasi. Dalam pada itu ternyata dianggap telah cukup bila diketahui
kerapan nisbi suatu populasi. Pengukuran kerapatan mutlak ialah dengan cara Penghitungan
menyeluruh yaitu cara yang paling langsung untuk mengerti berapakah makhluk
yang di pertanyakan di sutau daerah adalah menghitung makhluk tersebut semuanya atau dengan metode cuplikan yaitu dengan
menghitung proporsi kecil populasi.
Untuk menaksir besarnya populasi
hewan dapat dihitung dengan kepadatan absolute dan kepadatan relative. Metoda
yang digunakan dapat bermacam-macam tergantung pada tujuan yang hendak dicapai.
Dalam memilih metoda dan teknik pengambilan sampel harus dipertimbangkan alat,
tenaga dan waktu yang tersedia. Misalnya metoda sensus (total count) merupakan
metoda yang dapat memberikan hasil perhitungan populasi secara absolute namun
membutuhkan waktu dan biaya yang cukup besar. Untuk itu agar lebih efisien
dapat dilakukan perhitungan populasi secara relative. Kelemahannya adalah hasil
estimasi yang diperoleh tidak seakurat perhitungan secara absolute (Suin, 1989).
1.2
Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah
menaksir populasi kumbang beras (Sitophilus oryzae) pada substrat tepung
dan menaksir populasi hewan tanah (makrofauna) pada suatu habitat dengan Hand
sorting method dan untuk menaksir
populasi hewan tanah (makrofauna) pada suatu habitat dengan hand sorting
method.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Populasi adalah sehimpunan individu atau sekelompok
individu dalam satu spesies yang dapat melangsungkan interaksi genetik dengan
tata ruang tertentu. Karakteristik dasar populasi yang banyak didiskusikan
adalah kepadatan (density). Empat parameter populasi yang mengubah kepadatan
populasi adalah natalitas (kelahiran), mortalitas (kematian), imigrasi dan
emigrasi (Tarumingkeng, 1994).
Estimasi populasi adalah suatu metode yang digunakan
untuk melakukan perhitungan kepadatan suatu populasi.
Kepadatan populasi satu jenis atau kelompok hewan dapat
dinyatakan dalam bentuk jumlah atau biomassa per unit atau persatuan luas atau persatuan volume
atau persatuan penangkapan. Kepadatan relatif relatif dapat dihitung dengan
membandingkan kepadatan suatu jenis dengan kepadatan semua jenis yang terdapat
dalam unit tersebut. Kepadatan relatif biasanya dinytakan dalam bentuk
presentase (Suin, 1989).
Beberapa metode yang digunakan dalam estimasi populasi
adalah Pitfall trap, Capture
Mark Release Recapture.
Hand sorting method. Pitfall trap
adalah suatu metoda jebakan yang digunakan untuk menangkap hewan yang aktif di permukaan tanah, seperti
Arthropoda tanah. Cara ini dilakukan dengan menanam bejana hingga rata dengan
tanah. Yang perlu diperhatikan adalah penempatan perangkap, prilaku hewan,
kegiatan musiman dan penyebaran hewan itu sendiri. Metoda light trap
adalah metoda yang digunakan untuk menaksir populasi serangga yang aktif
terbang malam hari (nocturnal). Dengan cara pemasangan cahaya pada ketinggian
yang tepat (Poole, 1974).
Metoda
sortir tangan (Hand sorting
method )adalah
metoda pengambilan makrofauna
tanah
yang paling baik,dan hasilnya paling baik digunakan dan dibandingkan dengan
metoda lainnya. Kelemahan metoda ini hanyalah karena metoda ini membutuhkan
banyak waktu dan tenaga dan ketelitian yang tinggi. Pada metoda ini tanah
diambil pada kuadrat yang telah ditentukan luasnya dan kedalamannya, dan tanah
itu dimasukkan kedalam suatu kantong dan selanjutnya makrofauna yang terdapat didalamnya
langsung disortir. Makrofauna
yang
didapat dibersihkan dan langsung dihitung dan ditimbang beratnya dan
selanjutnya diawetkan dalam formalin 10%. (Arnita,
1990).
Capture Mark Release Recapture
(CMMR) yaitu menandai, melepaskan dan menangkap kembali sampel sebagai metode
pengamatan populasi. Merupakan metode yang umumnya dipakai untuk menghitung
perkiraan besarnya populasi. Populasi merupakan wilayah generalisasi yang
terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya. Hal yang pertama dilakukan adalah dengan menentukan tempat yang
akan dilakukan estimasi, lalu menghitung dan mengidentifikasinya, dan hasil
dapat dibuat dalam sistem daftar (Hadisubroto.T. 1989).
Untuk metode
sampling biotik hewan bergerak biasanya digunakan metode capture-recapture.
Merupakan metode yang sederhna untuk menduga ukuran populasi dari suatu spesies
hewan yang bergerak cepat seperti ikan, burung dan mamalia kecil. Metode Capture Mark-Recapture ditujukan
merupakan salah satu metode inventarisasi satwa liar yang digunakan untuk
memperkirakan berbagai parameter populasi antara lain kepadatan populasi, laju
kematian, kelahiran, emigrasi dan imigrasi.Pada metode ini dilakukan
penangkapan satwa, kemudian satwa yang telah ditangkap ditandai dan dilepaskan
kembali. Dalam periode waktu tertentu, dilakukan penangkapan kembali sehingga
didapatkan individu yang bertanda dan tidak bertanda. Selama dua periode waktu
pengamatan, tidak terdapat penambahan (kelahiran atau imigrasi) ataupun
pengurangan (kematian atau emigrasi) jumlah populasi (Poole, 1974).
Umumnya
semua asumsi dalam studi CMR dapat terpenuhi kecuali asumsi ke-2. Metode CMR
dapat dilakukan selama beberapa bulan atau beberapa tahun (multiple cencus)
dengan melakukan beberapa periode penangkapan. Jika hal ini dilakukan, maka
akan diketahui dinamika populasi sehingga dapat diperkirakan laju kelahiran
ataupun laju kematian dari suatu populasi (Krebs, 1978).
Dalam melakukan metode CMR, Poole
(1974) menjabarkan asumsi yang harus dipenuhi yaitu individu yang bertanda bercampur
dengan individu lain yang tidak tertangkap pada periode pennagkapan pertama. Selama dua periode waktu pengamatan,
tidak terdapat penambahan (kelahiran atau imigrasi) ataupun pengurangan
(kematian atau emigrasi) jumlah populasi. Individu yang bertanda tidak terpengaruh atau terganggu
terhadap tanda yang diberikan. Kedua sampel diambil secara acak dan tiap individu mempunyai
peluang yang sama untuk tertangkap. Tanda yang dipasang tidak hilang selama dilakukan studi. Penangkapan pertama tidak
mempengaruhi kemungkinan individu tertangkap pada penangkapan kedua (beberapa
jenis satwa menunjukkan perilaku senang tertangkap)
Pada metode ini dilakukan setidaknya
dua sampel studi. Pertama dilakukan penangkapan dan jumlah inidividu satwa yang
tertangkap diberi notasi n1. Semua satwa yang tertangkap pada sampel
pertama diberi tanda kemudian dilepaskan kembali ke habitatnya. Kemudian selang
beberapa waktu (bisa hari atau minggu) dilakukan penangkapan kedua, dimana jumlah
individu satwa yang tertangkap pada penangkapan kedua ini diberi notasi n2,
dimana sejumlah individu satwa yang tertangkap pada penangkapan kedua ini
bertanda dan diberi notasi sebagai m2 (Poole. 1974).
Untuk mencari
nilai pendugaan
populasi pada suatu kawasan dapat menggunakan rumus Chapman yang memodifikasi pendugaan
Lincoln-Petersen, yakni sebagai berikut:
Maka
populasi yang sebenarnya berada pada kisaran= N ±2S. Persamaan ini umumnya dapat
berbeda pada berbagai sumber, seperti pada Introduction of Quantitative ecology
yang disusun oleh Poole (1974) maupun buku sejenis yang disusun oleh
Krebs (1974).
Individu-individu yang diambil
sebagai sample haruslah acak sehingga dapat mewakili populasi. Ukuran besar
kecilnya sa,pel sangatlah penting. Dalam hal ini semakin besar sample maka
semakin mewakili populasi. Populasi ditafsirkan sebagai kumpulan kelompok
makhluk yang sama jenis (atau kelompok lain yang individunya mampu bertukar
informasi genetic) yang mendiami suatu ruangan khusus, yang memiliki berbagai
karakteristik yang walaupun paling baik digambarkan secara statistic, unik
sebagai milik kelompok dan bukan karakteristik individu dalam kelompok itu
(Soetjipta,1992).
Kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu Simulasi Estimasi Populasi. Tujuan
diadakannya kegiatan ini adalah untuk Menerapkan metode Capture – Mark
– Release – Recapture untuk memperkirakan besarnya populasi simulan (objek
simulasi) dan membandingkan hasil estimasi dari 2 rumus yaitu rumus Petersen
dan Schnabel. Kepadatan pupolasi satu jenis atau kelompok hewan dapat
dinyatakan dalam dalam bentuk jumlah atau biomassa per unit, atau persatuan
luas atau persatuan volume atau persatuan penangkapan. Kepadatan pupolasi
sangat penting diukur untuk menghitung produktifitas, tetapi untuk
membandingkan suatu komunitas dengan komnitas lainnya parameter ini tidak
begitu tapat. Untuk itu biasa digunakan kepadatan relative. Kepadatan relative
dapat dihitung dengan membandingkan kepadatan suatu jenis dengan kepadatan
semua jenis yang terdapat dalam unit tersebut. Kepadatan relative biasanya
dinyatakan dalam bentuk persentase (Suin.N.M,1989).
III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
3.1
Waktu dan Tempat
Praktikum
“Metoda Estimasi Populasi” ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 15 Maret
2011, pukul 09.00 WIB di Laboratorium Ekologi, Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang.
3.2
Alat dan Bahan
3.2.1 capture
recapture
Alat
yang digunakan dalam praktikum ini adalah baki, penggaris, tipe-X, kertas.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah tepung beras 2kg, kutu beras (Sitophilus oryzae) 50
ekor.
3.2.2 hand sorting
method
Alat yang digunakan dalam hand sorting method adalah cangkul/sendok semen, pancang 4 buah,
tali rafia, plastik 1 kg 16 buah, karet gelang secukupnya.
3.3
Cara Kerja
3.3.1 capture
recapture
Tepung
beras dimasukkan ke dalam wadah yang ketebalannya setengah dari dalamnya wadah,
kemudian kumbang beras dilepaskan ke
dalam tepung, lalu diaduk sehingga penyebarannya merata di dalam wadah.
Diatakan dan dibiarkan selama 1 jam. Setelah hampir 1 jam, dibuat petak-petak
kecil (grid) berukuran 5cm x 5cm. Setelah itu dilakukan pencuplikan sebanyak 5
cuplikan diantara grid tersebut. Kumbang beras yang diperoleh dari penangkapan
pertama ini seluruhnya ditandai bagian toraknya disebut F1. Kemudian dilepaskan
kembali dan dibiarkan selama 1 jam. Setelah itu kumbang diambil kembali seperti
pada pencuplikan pertama. Dihitung jumlah kumbang bertanda dan tidak bertanda
sebagai F2, sedangkan kumbang yang bertanda saja sebagai F3.

Proporsi Populasi yang Bertanda pada
Penangkapan Kedua

F2

F3
3.3.2 hand sorting method
Tentukan
habitat yang akan ditaksir populasi hewan tanahnya, misalnya semak padang
rumput dan hutan. Pada habitat tersebut dibuat plot ukuran 1m x 1m dan plot ini
dibagi atas subplot 25cm x 25cm. Kemudian
setiap plot digali dengan sendok dompol sampai kedalaman ±10 cm. Hewan yang
terdapat selama penggalian tersebut dikumpulkan dan dimasukkan kedalam plastic
atau botol kecil. Setelah didapatkan sampel seluruh plot, hitung jumlah
individu masing-masing jenis yang didapatkan. Setelah didapatkan jumlah
tersebut analisis data tersebut.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Capture
Recapture
Dari praktikum
yang dilakukan, didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 18. Pengamatan estimasi populasi metoda capture recapture pada Sitophilus oryzae (kumbang beras)
Cuplikan
|
Jumlah S. Oryzae
|
||
Bertanda
|
Tidak bertanda
|
Total N
|
|
I
|
-
|
5 ekor
|
40 ekor
|
II
|
1 ekor
|
7 ekor
|
Dari
percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa saat pengambilan kumbang
beras dalam pengamatan populasi
menggunakan metode capture recapture,
saat pengambilan cuplikan pertama kumbang beras yang dianggap sebagai hewan
yang akan ditandai (F1) diperoleh hasil jumlah yang tertangkap adalah 5, kemudian Sitophilus
oryzae yang didapat
diberi tanda, dan pada cuplikan kedua menunjukkan nilai F2 sebanyak 8 ekor dan jumlah kumbang beras yang sudah bertanda pada cuplikan
kedua menunjukkan nilai F3 yaitu sebanyak 1 ekor. Kemudian ditemukan nilai N sebanyak 40 ekor.
Pada proses perhitungan estimasi populasi
Sitophilus oryzae, baki yang digunakan untuk meletakkan tepung dibagi
menjadi beberapa plot dengan ukuran
sekitar 5 cm x 5 cm. Kemudian cuplikan di ambil pada 5 buah plot.
Cuplikan inilah yang disebut sebagai sampel. Kemudian sampel itu diestimasi sehingga
dapat dihasilkan populasi sebanyak 40 ekor
Sitophilus
oryzae yang terdapat di
dalam area yang diamati, jumlah populasi ini mendekati jumlah populasi yang
sebenarnya yaitu sebanyak 50 ekor. Namun dari hasil dapat kita lihat terjadi
penyimpangan atau galat pada populasi sebenarnya. Pernyataan diatas sesuai
dengan literatur menurut Suin (1989), bahwa estimasi menggunakan sampel
mungkin menunjukkan karakteristik yang menyimpang dari karakteristik populasi.
Penyimpangan dari karakteristik populasi disebut galat sampling (sampling
error). Jadi, galat sampling adalah perbedaan antara hasil yang diperoleh dari
sampel dengan hasil yang didapat dari sensus.
Dari percobaan dapat
terlihat bahwa kita dapat menduga sifat-sifat suatu kumpulan objek penelitian hanya
dengan mempelajari dan mengamati sebagian dari kumpulan itu. Bagian yang
diamati itu disebut sampel, sedangkan kumpulan objek penelitian disebut
populasi. Objek penelitian dapat berupa orang, hewan, maupun tumbuhan. Dalam
penelitian, objek penelitian ini disebut satuan analisis (units of analysis)
atau unsur-unsur populasi
(Soetjipta, 1992).
Bila kita meneliti seluruh unsur
populasi, kita melakukan sensus. Sensus mudah dilakukan bila jumlah populasi
terbatas. Sensus memang, tidak selamanya sempurna. Hasil sensus yang
mengungkapkan karakteristik populasi (seperti rata-rata, ragam, modus, atau
(range), disebut parameter. Bila jumlah unsur populasi itu terlalu banyak,
padahal kita ingin menghemat biaya dan waktu, kita harus puas dengan sampel.
Karakteristik sampel disebut statistik. Kita sebetulnya tidak tertarik pada
statistik. Kita ingin menduga secara cermat parameter dari statistik. Metode
pendugaan inilah yang dikenal sebagai teori sampling. Ini berarti sampel harus
mencerminkan semua unsur dalam populasi secara proporsional. Sampel seperti itu
dikatakan sampel tak bias (unibased sample) atau sampel yang representatif.
Sebaliknya sampel bias adalah sampel yang tidak memberikan kesempatan yang sama
pada semua unsur populasi untuk dipilih (Hadisubroto, 1989).
Saat pengambilan cuplikan pertama kumbang
beras yang dianggap sebagai hewan yang akan ditandai (F1) kemudian Sitophilus
oryzae yang didapat
diberi tanda, dan pada cuplikan kedua menunjukkan nilai F2 dan jumlah kumbang beras yang sudah bertanda pada cuplikan
kedua menunjukkan nilai F3. Model ini menurut pendapat Agus (1994) disebut juga sebagai model
Peterson menangkap sejumlah individu dari sujumlah populasi hewan yang akan
dipelajari. Individu yang ditangkap itu diberi tanda kemudian dilepaskan kembali
dalam beberapa waktu yang singkat. Setelah itu dilakukan pengambilan ke-2
terhadap sejulah individu dari populasi yang sama. Dari penangkapan kedua
inilah diidentifikasi individu
yang bertanda yang berasal dari penangkapan pertama dan individu yang tidak
bertanda dari hasil penangkapan ke dua. Metode schanebel ini dapat digunakan
untuk mengurangi ke tidak validan dalam metode Patersen. Metode ini membutuhkan
asumsi yang sama dengan metode Peterson yang ditambahkan dengan asumsi bahwa
ukuran populasi harus konstan dari suatu periode sampling dengan periode
berikutnya. Pada metode ini penangkapan penandaan dan pelepasan hewan dilakukan
lebih dari 2 kali. Untuk setiap periode sampling semua hewan yang belum
bertanda diberi tanda dan dilepaskan kembali.
4.2 Hand SortingMethod
Tabel 19. Analisis hasil pengamatan hewan tanah
dengan metoda hand sorting
NO
|
TAKSA
|
K(ind/m2)
|
KR(%)
|
F
|
FR(%)
|
Konstanta
|
1.
|
Polyrachis sp.
|
10
|
40
|
0,25
|
26
|
Assesori
|
2.
|
Pheretima sp.
|
7
|
28
|
0,19
|
20
|
Aksidental
|
3.
|
Iulus sp.
|
2
|
8
|
0,125
|
13
|
Aksidental
|
4.
|
Sp 1
|
3
|
12
|
0,19
|
20
|
Aksidental
|
5.
|
Componatus sp.
|
3
|
12
|
0,19
|
20
|
Aksidental
|
Jumlah
|
25
|
100
%
|
Berdasarkan pada tabel
yang telah didapatkan ada lima jenis hewan yang ditemukan pada plot yaitu Polyrachis
sp, Pheretima
sp,
Iulus sp,
Sp 1, Componatus Hewan
yang selalu ada pada 4subplot yaitu ada dua jenis hewan Paretima sp. Hal
Ini menandakan pada daerah tersebut merupakan habitat yang cocok tempat hidup
jenis hewan itu. Pada
setiap subplot ditemukan keragaman organisme dan
menandakan adanya penyebaran hidup pada jenis hewan tersebut.
Dari tabel diatas dapat dilihat nilai K dan KR
tertinggi adalah Polyrachis
sp.
sedangkan yang paling rendah terdapat pada Iulus sp. sedangkan FK terttinggi terdapat pada Polyrachis sp. Hal ini membuktikan bahwa kepadatan
populasi suatu jenis dapat dilkuakn
perkiraan jumlah spesies yang menempati suatu daerah. Sesuai dengan
pernyataan Suin (1989), bahwa dalam mengetahui kepadatan
populasi suatu jenis organisme di habitatnya maka dilakukan perhitungan, dapat
dihitung dengan
kepadatan absolute atau kepadatan relative. Metoda
yang digunakan dapat bermacam-macam, tergantung kepada tujuan yang hendak
dicapai.
Metoda
hand sourting merupakan metoda yang
hanya dapat dilakukan pada hewan tanah yang berukuran besar. Cara ini dapat
dilakukan langsung dengan praktek lapangan dengan memiliki hewan dari contoh
tanah yang diambil. Efisiensi dari metoda ini berkisar dari 59-90%. Hewan tanah
dapat dikelompokkan berdasarkan ukuran tubuhnya yaitu mikrofauna (ukuran tubuh
20 - 200 mikron), mesofauna (ukurna tubuh 200 mikron - 1cm) dan makrofauna
(ukuran tubuh lebih besar dari 1cm) (Suin, 1989). Sehingga metoda yang digunakan
sesuai dengan literatur.
Metoda sortir dengan tangan ini lebih efektif jika
dilakukan untuk estimasi populasi cacing tanah (Pheretima sp.) ,
karena cacing bergantung hidupnya pada
tanah atau habitatnya ditanah. Namun dari hasil kepadatan populasi dan
frekuensi nilai Polyrachis sp
lebih tinggi dari Pheretima
sp
. ini terjadi mungkin karena pada area plot yang digunakan
terdapat makanan yang banyak untuk Polyrachis
sp Menurut
teorinya Michael (1994). Struktur suatu komunitas
bergantung pada cara dimana hewan tersebar didalamnya. Pola penyebaran bergantung pada sifat
fisikokimia lingkungan maupun keistimewaan biologis organisme itu sendiri, keragaman tidak terbatas dari pola
penyebaran yang terjadi didalam alam secara kasar dapat dibagi tiga kategori,
salah satunya, keberadaan acak atau kebetulan dimana individu-individu menyebar
dalam beberapa tempat.
/pV.
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Dari
percobaan yang telah dilakukan dan hasil table yang didapatkan diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Pada metoda capture
recapture total perhitungan estimasi
populasi kumbang beras (Sitophilus oryzae) adalah 40 ekor mendekati jumlah populasi sebenarnya 50 ekor.
2. Pada metoda hand
sorting Kerapatan dan kerapatan relative yang
paling besar ditemukan nilai K dan KR tertinggi
adalah pada Polyrachis sp. sedangkan yang paling
rendah terdapat pada Iulus sp.
5.2 Saran
untuk
praktikum ini adalah praktikan harus memahai tentang teori praktikum dan
mengerjakan praktikum sesuai dengan prosedur erja yang ada agar tidak terjadi
kesalahan, praktikan harus teliti dan sungguh-sungguh dalam pelaksanaan
praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Agus, S. 1994. Penuntun
Ekologi Umum. Universitas jambi. Jambi
Hadisubroto, T.
1989. Ekologi Dasar. DEPDIKBUD. Jakarta.
Arnita,indriani.1990.Ekologi Umum .Gita
Media Press. Jakarta.
Krebs,
C.J. 1978. Ecology, The Experimental Analysis of
Distribution and Abundance Second Edition. Harper and Row.
New York.
Michael, R.1994. Introduction
Ecology. McGraw Hill Company. New york.
Naughhton.1973.
Ekologi Umum edisi Ke 2. UGM Press. Yogyakarta
Poole,
R. 1974. Introduction to Quantitative Ecology. McGraw-Hill. New
York.
Rustamsyah. Zulaika, Erny. Nurhatina, Sri dan Gani, N.A.1990. Biologi. Jurusan Kimia Fakultas MIPA
ITS. Surabaya.
Soetjipta.1992.
Dasar-dasar Ekologi Hewan. DEPDIKBUD DIKTI. Jakarta
Suin,
N.M. 1989. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara. Jakarta.
Tarumingkeng, R.C.1994. Metode Sampling Biotik Untuk Menduga Populasi Hewan Bergerak.
Universitas Negeri Hasanudin. Makasar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar